Jumat, Oktober 17, 2008

Mengapa Belajar Seni Budaya di SMK

Oleh : falsburgers.blogspot.com

Pendidikan Seni Budaya diberikan di sekolah karena keunikan perannya yang tak mampu diemban oleh mata pelajaran lain. Keunikan tersebut terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni”.
Pendidikan Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya. Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.
Pendidikan Seni Budaya memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas (AQ), kreativitas (CQ), spiritual dan moral (SQ).

Definisi Kecerdasan
C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu : (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.
Memang, semula kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya, atau Thurstone (193 dengan teori “Primary Mental Abilities”-nya. Dari kajian ini, menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk Inteligent Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Ideot sampai dengan Genius (Weschler dalam Nana Syaodih, 2005). Istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian, Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha membakukan tes IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes Stanford-Binet.
Selama bertahun-tahun IQ telah diyakini menjadi ukuran standar kecerdasan, namun sejalan dengan tantangan dan suasana kehidupan modern yang serba kompleks, ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit dan sekaligus menggairahkan di kalangan akademisi, pendidik, praktisi bisnis dan bahkan publik awam, terutama apabila dihubungkan dengan tingkat kesuksesan atau prestasi hidup seseorang.

Kecerdasan Adversitas

Kecerdasan adversitas(AQ, Adversity Quotient) adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup. Dengan AQ, seseorang seperti diukur kemampuannya dalam menghadapi setiap persoalan hidup agar tidak putus asa.

Penemuan Paul G. Stolzt, Ph.D ini sudah mendapat legitimasi pula dari hasil temuan psikolog social Amerika, David mc. Cleland, mengenai kebutuhan berprestasi, yakni The Need for Achievement (N-Ach). Bahkan Sclotz berkesimpulan bahwa IQ dan EQ tidak lagi memadai untuk meraih sukses. Karena itu, pasti ada factor lain berupa motivasi, dorongan dari dalam serta sikap pantang menyerah. Faktor itu kemudian disebut Adversity Quotient.
Dalam bukunya itu, Sclotz membagi manusia ke dalam 3 tipe, yaitu

1. Quitters(mereka yang berhenti)
Orang jenis ini berhenti di tengah proses pendakian, gampang putus asa, mudah menyerah.
2. Campers(pekemah)
Tidak mencapai puncak, merasa puas dengan yang telah dicapai.kilah mereka, “Segini saja sudah cukup, ngapain capek-capek.” Orang ini lebih banyak jumlahnya dibanding quitters. Mereka menduga apa yang telah dicapai merupakan kesuksesan akhir. Padahal tidak demikian sebenarnya. Sebab masih banyak potensi mereka yang belum tergali.
3. Climbers(pendaki)
Mereka yang selalu optimis, melihat peluang-peluang, melihat celah, melihat harapan di balik keputus-asaan, selalu bergairah untuk maju. Titik kecil yang oleh orang lain dianggap sepele, bagi para climbers dianggap sebagai cahaya kesuksesan. Dalam teori psikologi, Sclotz menempatkan climbers ini pada piramida puncak hierarki kebutuhan yang disebiut dalam teori Maslow sebagai aktualisasi diri.

Dengan semangat Al Matin, kita mesti berani membunuh sifat-sifat pengecut yang bersarang dalam pikiran (mind) dan jiwa, sebab ini hanya akan menghambat keberhasilan. Untuk apa kita takut, sebab langit dan bumi dimana kita bagian darinya adalah kepunyaan Allah dan dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang(Ar-rahmah) (QS Al An’am(6):12). Artinya bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita. Tebaran kasih sayangnya senantiasa menyelimuti kita. Menyertai setiap perjalanan kita, sehingga tidak ada alasan untuk takut menjalani hidup ini.

Prof. Dr. Hamka mengatakan, “Jangan takut, sebab yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, sebab yang tidak pernah agal hanyalah orang yang tidak pernah mencoba melangkah. Jangan takut salah, sebab orang dengan kesalahan yang pertama, kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah kedua.”

Itulah sebabnya, berhentilah merasa lelah dan hiduplah dengan penuh vitalitas. Hancurkanlah kemalasan dan perasaan gagal dalam hidup.

Ingatlah kata-kata Muhammad Iqbal,”Tuhan adalah kekuatan. Berikan karakter dan imajinasi yang sehat, maka kita dapat membangun kembali dunia yang penuh dosa dan penderitaan ini menjadi surga nyata.”

Kecerdasan Spiritual

Mengutip lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons, The Psychology of Ultimate Concerns:

(1) kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material;
(2) kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak;
(3) kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari;
(4) kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan
masalah;
(5) kemampuan untuk berbuat baik.

Dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Kita yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material.
Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indrianya.

Sanktifikasi pengalaman sehari-hari, ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada abad pertengahan seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang mengangkut batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan muka cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan ceria, gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, Apa yang
sedang Anda kerjakan? Yang cemberut menjawab, Saya sedang menumpuk batu.Yang ceria berkata, Saya sedang membangun katedral! Yang kedua telah mengangkat pekerjaan menumpuk bata pada dataran makna yang lebih luhur. Ia telah melakukan sanktifikasi.

Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual seperti teksteks Kitab Suci atau wejangan orang-orang suci- untuk memberikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi.

Kecerdasan Emosional

Dulu pernah ada pandangan bahwa faktor dominan yang menyebabkan seseorang sukses dalam masyarakat, dunia usaha/industri, dan pemerintahan adalah kecerdasan intelektual. Pengalaman dan hasil penelitian membuktikan bahwa faktor dominan penyebab kesuksesan sesorang adalah kecerdasan spiritual dan emosioanal.

Daniel Goleman, seorang ahli psikologi berpendapat bahwa IQ hanya menyumbangkan 20% terhadap keberhasilan seseorang, selebihnya ditentukan oleh faktor-faktor lain dimana EQ termasuk di dalamnya (Suyanto dan Djihad Hisyam (2000:9)

Daniel Goleman adalah salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni Kecerdasan Emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotient (EQ). Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.

Patricia Patton (Suyanto dan Djihad Hisyam, 2000:9) EQ meliputi sifat-sifat atau karakter manusia seperti : (1) self-awareness (kesadaran); (2) mood management (manajemen suasana hati), yaitu optimis, tahan uji, sabar dan sebagainya; self motivation (motivasi diri); impulse control (pengendalian insting atau ledakan-ledakan diri); (5) people skills (ketrampilan). Sementara itu Arif Rachman (Widayati 2002:68,70) menyatakan bahwa hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam EQ (Emotional Quotient) adalah :

(1) kontrol diri : kendali akal, perasaan, iman
(2) kemampuan bekerja sama : saling pengertian, tenggang rasa, pemaaf, menerima kekurangan
(3) love (cinta ) : jujur, berbagi (kegembiraan/kesedihan), perhatian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Boleh Ngomong Kok